INI PENDAPAT ULAMA EMPAT MAZHAB TENTANG PUASA RAJAB
Sebagaimana diketahui bulan rajab termasuk katagori bulan haram. Ada empat bulan haram yakni Dzulqa’dah, Dzul hijjah, Rajab dan Muharram. Secara bahasa atau maknawiah "Bulan Haram" adalah "bulan" yang disucikan dimana orang dilarang berperang kecuali kalau diserang, juga dilarang membunuh binatang darat buruan untuk menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup (suaka margasatwa).
Mereka bertanya tentang
berperang pada "Bulan Haram". Katakanlah: “Berperang dalam "bulan" itu
adalah dosa besar. Namun menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada
Allah, (menghalangi masuk) Masjidil "Haram" dan mengusir
penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat
fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. (QS AL-Baqarah (2) :217)
Para ulama kita menjelaskan bahwa keempat bulan haram tersebut memiliki keistimewaan dan keutamaan jika dibandingkan bulan-bulan lainnya kecuali bulan Ramadhan. Namun mereka berbeda pendapat manakah diantara empat bulan haram tersebut yang lebih afdhal; sebagian ulama Syafi’iyyah mengatakan yang paling afdhal bulan Rajab akan tetapi pendapat ini dilemahkan oleh Imam Nawawi, Tabi’in yang mulia Hasan al Bashri mengatakan bulan Muharram dan ini yang ditarjihkan oleh imam Nawawi dan pendapat ketiga mengatakan bulan Dzulhijjah, pendapat terakhir ini diriwayatkan dari Said bin Jubair dan ini yang cenderung dipilih oleh Ibnu Rajab al Hanbali rahimahumullohu jami’an.
Bulan Rajab adalah salah satu bulan Haram (suci) sebagaimana Firman Allah Ta’ala terkait dengannya:
'
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ (سورة التوبة: 36)
"Sesungguhnya bilangan
bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu
Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan
yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Bulan-bulan Haram adalah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.
Diriwayatkan oleh Bukhari, 4662 dan Muslim, 1679 dari Abu Bakrah radhiallahu
anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Setahun itu ada dua belas
bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah,
Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yang terdapat di antara (bulan)
Jumadi Tsani dan Sya’ban.”
Bulan-bulan ini dinamakan bulan haram karena dua hal;
1. Karena pada bulan-bulan ini diharamkan berperang, kecuali musuh memulai (perang).
Bulan-bulan ini dinamakan bulan haram karena dua hal;
1. Karena pada bulan-bulan ini diharamkan berperang, kecuali musuh memulai (perang).
2. Sebagai penghormatan.
Maksudnya jika ada perbuatan yang haram dilanggar, maka pada bulan-bulan ini
bobotnya lebih berat dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.
Oleh karena itu, Allah
Ta’ala memperingatkan agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan pada bulan-bulan
ini, berdasarkan firmanNya: “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam
bulan yang empat itu.” QS. At-Taubah: 36, meskipun melakukan kemaksiatan
diharamkan dan dilarang pada bulan-bulan ini dan lainnya, akan tetapi pada bulan-bulan
ini sangat diharamkan.
As-Sya’di rahimahullah
berkata (dalam tafsirnya) pada hal. 373: “Firman Allah;
‘فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
" Maka janganlah kamu
menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu."
Ada kemungkinan dhamir (kata
ganti pada ayat tersebut) kembali kepada dua belas bulan. Dengan demikian,
Allah menjelaskan bahwa bulan-bulan tersebut telah ditetapkan ketentuannya bagi
para hamba-Nya, agar mereka meramaikannya dengan ketaatan (kepadaNya) seraya bersyukur
kepada Allah atas karunia yang Dia berikan kepadanya serta mengarahkannya untuk
kebaikan para hamba dan agar tidak melakukan perbuatan aniaya terhadap diri
sendiri di dalamnya.
Ada kemungkinan dhamir (kata
ganti pada ayat tersebut) kembali kepada empat bulan Haram. Ini berarati
merupakan larangan khusus bagi mereka untuk berbuat zalim pada bulan-bulan itu,
meskipun larangan berbuat zalim berlaku bagi setiap waktu. Karena bobot
keharamannya (di bulan haram) bertambah dan karena kezaliman pada (bulan-bulan
haram) lebih berat dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”
Adapun puasa pada bulan Rajab, tidak ada ketetapan dari hadits yang shahih yang menganjurkan seseorang mengkhususkan puasa beberapa hari di (bulan rajab) dengan berpuasa seraya meyakini keutamaannya dibandingkan dengan (bulan-bulan) lain. Ada hadist shahih yang menganjurkan puasa di bulan Haram (namun bukan khusus di bulan Rajab).
Adapun puasa pada bulan Rajab, tidak ada ketetapan dari hadits yang shahih yang menganjurkan seseorang mengkhususkan puasa beberapa hari di (bulan rajab) dengan berpuasa seraya meyakini keutamaannya dibandingkan dengan (bulan-bulan) lain. Ada hadist
Nabi
sallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan dianjurkan berpuasa di bulan-bulan
Haram (dan Rajab termasuk bulan Haram), sebagaimana Beliau sallallahu alaihi wa
sallam bersabada:
“Berpuasalah di
(bulan-bulan) Haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Daud, 2428 dan dilemahkan oleh
Al-Bany dalam kitab Dhaif Abu Daud)
Hadits shahih ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan Haram. Maka, barangsiapa
berpuasa di bulan Rajab ini, lalu dia juga berpuasa di bulan-bulan Haram
lainnya, maka hal itu tidak mengapa. Sedangkan jika dikhususkan berpuasa pada bulan
Rajab, maka tidak (dibolehkan).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata dalam ‘Majmu’ Fatawa, 25/290: “Adapun berpuasa di Bulan
Rajab secara khusus, semua haditsnya adalah lemah, bahkan palsu. Sedikitpun
tidak dijadikan landasan oleh para ulama. Dan juga bukan kategori hadits lemah
yang dapat diriwayatkan dalam bab amalan utama (fadha'ilul a'mal). Mayoritasnya
adalah hadits-hadits palsu dan dusta. Terkait riwayat yang terdapat dalam
Musnad dan (kitab hadits) lainnya dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, bahwa
beliau memerintahkan untuk berpuasa pada bulan-bulan Haram yaitu Rajab,
Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram, yang dimaksud adalah anjuran berpuasa pada
empat bulan semuanya, bukan khusus Rajab.”
Lalu bagaimana Pendapat
Ulama Empat Mazhab tentang Puasa Rajab? Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab tentang
Puasa Rajab
Mazhab Hanafi:
Menurut mazhab ini, puasa
Rajab dikategorikan sebagai salah satu puasa sunah yang sangat dianjurkah
(marghubat). Ini seperti dinukilkan dari kitab al-Fatawa al-Hindiyah. Dalam
kitab ini dijelaskan bahwa ada beberapa puasa sunah antara lain Muharam, Rajab,
Sya’ban, dan ‘Asyura.
Mazhab Maliki:
Mengutip kitab Syarah
al-Kharasyi ‘ala Khalil yang bercorak Maliki bahwa puasa di empat bulan
haram termasuk amalan yang sunat yang dianjurkan.
Dalam Muqaddimah Ibn
Abi Zaid Ma’a as-Syar li Fawakih ad-Dawani disebutkan, mengerjakan puasa
sunat sangat dianjurkan, termasuk puasa ‘Asyura, Rajab, Sya’ban, Arafah, dan
Tarwiyah. Bahkan puasa Arafah bagi orang yang tidak berhasi, lebih utama.
Mazhab Syafi’i:
Para imam Mazhab Syafi’i
juga berpendapat berpuasa Rajab termasuk salah satu amalan sunat yang
dianjurkan.
Dalam kitab Mughni
al-Muhtaj diterangkan bahwa bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadhan
adalah empat bulan haram.
Dan yang paling utama adalah
Muharram, merujuk hadis yang kuat : “Puasa yang lebih utama setelah Ramadhan
adalah Muharram kemudian Rajab”.
Ini terlepas dari adanya
perbedaan tentang keutamaan Rajab atas keempat bulan Haram, menyusul kemudian
adalah puasa Sya’ban.
Mazhab Hanbali:
Dalam kitab al-Mughni karya
Ibnu Quddamah, dijelaskan secara prinsip berpuasa pada Rajab hukumnya boleh
selama tidak dilakukan sebulan penuh dan berturut-turut.
Jika hanya berpuasa Rajab
saja sebulan penuh, tanpa berpuasa di bulan lainnya hukumnya makruh. Ini adalah
pendapat secara umum Mazhab Hanbali terkait berpuasa Rajab.
“Jika seseorang hendak
berpuasa Rajab, berpuasa dan berbukalah sehari atau beberapa hari, agar tidak
berpuasa sebulan penuh.” Bahkan, dalam kitab al-Inshaf, al-Mirdawi
menjelaskan, salah satu opsi pendapat dalam Mazhab Hanbali, bahwa berpuasa
Rajab termasuk sunat yang dianjurkan, selain puasa Sya’ban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar